Sultan Kanoman Cirebon Ke-12

Pangeran Patih Keraton Kanoman Cirebon

Jumat, 02 Juli 2010

BEGITU menginjakkan kaki di depan gerbang keraton, yang tampak adalah sebuah pendopo dikelilingi tembok yang cat putihnya tampak tak terawat. Bahkan salah satu sisi gapuranya hanya menunjukkan bekas porselen dari Tiongkok yang pernah ditanamkan di tembok. Sayangnya lagi, dindingnya 'dihiasi' coretan dari oknum yang tidak bertanggungjawab. Rerumputan tumbuh meninggi di beberapa sudut halaman.

Itulah sebagian gambaran terkini dari Keraton Kanoman yang ada di kota Cirebon. Kondisi kurang bagus itu juga diperparah dengan lokasinya yang berada di balik keramaian Pasar Kanoman. Untuk menuju ke keraton, mobil maupun becak harus menerobos kerumunan para pedagang.

Tak terbayangkan bahwa tempat itu menyimpan sejarah panjang tentang kepahlawanan, juga syiar Islam, jika tidak menatap dengan baik-baik bangunan utama. Memang tidak sebesar bangunan-bangunan di Keraton Yogyakarta atau Surakarta, namun masih memancarkan kharisma tersendiri.

Rasa penasaran menggiring langkah merambahi halamannya yang teduh. Jika diamati dengan teliti, memang tampak keistimewaan bangunan pagar maupun pintu gerbangnya. Pagar tembok maupun gerbang itu berhiaskan piring-piring porselen yang cantik.

Beruntung sekali saat mengunjungi Keraton itu, Warta Kota bertemu dengan putra kelima dari almarhum Sultan Kanoman XI, yaitu Pangeran Raja Mohamad Qodiran yang menjabat sebagai Pangeran Patih Kanoman.

Menurut Mohamad Qodiran, awalnya Kesultanan Kanoman merupakan bagian dari Kesultanan Cirebon. Namun Sultan Banten Ki Ageung Tirtayasa kemudian menobatkan dua orang pangeran dari Putra Panembahan Adining Kusuma (Kerajaan Mataram) untuk memegang kekuasaan di dua kesultanan. Keduanya yaitu Pangeran Badriddin Kartawijaya di Kesultanan Kanoman bergelar Sultan Anom dan Pangeran Syamsuddin Martawijaya di Kesultanan Kesepuhan bergelar Sultan Sepuh.

Kesultanan Kanoman diresmikan tahun 1677 Masehi. "Di antara keraton-keraton lain yang ada di Cirebon, Keraton Kanoman yang menjadi pusatnya peradaban Kesultanan Cirebon," tuturnya.

Keraton Kanoman juga dikenal taat dan konservatif dalam memegang adat istiadat dan pepakem. Contohnya tradisi Grebeg Syawal, seminggu setelah Idul Fitri, Keraton Kanoman masih menyelenggarakannya. Dalam acara yang intinya ziarah sultan dan keluarganya ke Makam Sinuhun Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara, Keraton Kanoman memegang adat dengan penuh ketaatan.

Koleksi Museum

Daya tarik utama Keraton Kanoman baru bisa dinikmati ketika memasuki museum yang terletak di sisi kanan bangunan utama. Di bangunan yang tidak terlalu besar itu tersimpan peninggalan-peninggalan keraton, mulai dari kereta kerajaan, peralatan rumah tangga, hingga senjata kerajaan.

Menurut pengamatan Warta Kota, perawatan benda-benda tersebut kurang maksimal. Benda koleksi museum berdebu dan lembab. Bahkan gedung museum sepertinya nyaris roboh dan di plafonnya banyak jejak-jejak air akibat bocor.

"Memang kami kekurangan dana dan tenaga untuk mengelola tempat ini. Tidak mungkin hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Sebagai penerusnya, tentu kami berusaha untuk menjaganya," ujar Qodiran.

Beberapa koleksi tampak tidak utuh. Salah satu yang menyita perhatian adalah jajaran kereta. Paling menonjol adalah kereta Paksi Naga Liman. Kereta itu, seperti tertera dalam keterangan yang ada, dibuat dari kayu sawo pada tahun 1350 Saka atau tahun 1428 Masehi oleh Pangeran Losari. Kereta itu merupakan kereta kebesaran Sunan Gunung Jati, leluhur Kesultanan Cirebon, yang memerintah tahun 1479-1568.

Pemberian nama itu berkaitan dengan pahatan kayu di bagian depan yang menggambarkan gabungan bentuk paksi (burung), naga, dan liman (gajah) memegang senjata. Paduan bentuk itu melambangkan persatuan tiga unsur kekuatan di darat, laut, udara, menyimbolkan keutuhan wilayah.

Keistimewaannya terletak pada bagian sayap patung yang bisa membuka-menutup saat sedang berjalan, juga bentuk rodanya yang berbeda dengan roda pedati biasa. Roda kereta dibuat cekung ke dalam. Konstruksi roda seperti itu sangat berguna jika melewati jalanan berlumpur yang basah. Kotoran tidak akan menciprat mengotori penumpangnya.

Kereta yang lain adalah Jempana, kereta kebesaran untuk permaisuri dengan hiasan bermotif batik Cirebon. Kereta berbahan kayu sawo itu juga dirancang dan dibuat atas arahan Pangeran Losari pada tahun yang sama.

Kereta-kereta itu menempati bagian tengah ruangan. Adapun bagian pinggir museum dipenuhi koleksi yang lain. Di antaranya koleksi wayang golek papak, kursi pengantin, gamelan, meja tulis lengkap dengan perlengkapan menulis daun lontar dan ijuk aren yang berfungsi sebagai alat menulis, kotak-kotak termasuk kotak dari Mesir. Di salah satu sudut, bisa dilihat koleksi senjata, mulai dari aneka pedang lokal dan pedang Eropa, keris, senjata api, aneka perisai, dan meriam.

Ada pula singgasana Sri Sultan yang terbuat dari gading, berusia lebih dari 700 tahun. Kursi ini dipakai pada awal pemerintahan Kesultanan Cirebon hingga periode Sri Sultan Kanoman Ke VIII. Karena kondisi kursi yang tidak memungkinkan lagi untuk diduduki, maka mulai Sri Sultan Kanoman IX hingga kini kursi tersebut dimuseumkan.

Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar